Mungkin anda pernah membaca sebuah novel yang berjudul ‘Remaja dari Karta’ yang menceritakan tentang seorang gadis pantura yang setamat SMA terus menikah dan tak lama kemudian menjadi janda selanjutnya pergi ke Jakarta mengadu nasib, kisah klasik ini ditata dengan apik dan asik, sarat dengan makna kekinian tentang nasib kaum pinggiran walau telah lulus SMA.

Penulisnya adalah Faisal, pria kelahiran 28 tahun lalu di Indramayu yang kini semakin produktif  menulis buku, tidak hanya novel tapi buku tentang teknologi informasipun ditulisnya.

Pria lulusan FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan konsentrasi di jurusan Ilmu Politik ini diakui berkontribusi besar terhadap perkembangan sastra dan budaya di Indonesia.

Banyak sekali karya sastra dan musik yang telah ditulisnya seperti puisi, lagu, dan novel. Di antara lagunya yang terkenal adalah ‘Senja di Pelupuk Mata’ dan ‘Liku Sang Kupu-Kupu’, banyak lagu kritik sosial dan cinta yang ditulis oleh Bung Fai, demikian Faisal akrab dipanggil.

Ketika berbincang-bincang kediamannya Rabu 28/3, Bung Fai memaparkan tentang lapangan kerja dan pengangguran yang terjadi sekarang ini.

“Tahun 2017 dalam catatan Badan Pusat Statistik (BPS) telah terjadi peningkatan pengangguran sebesar 10.000 orang.  Statistik menyebutkan bulan Agustus 2016 pengangguran di Indonesia hanya sebesar 7,03 juta orang dan di bulan Agustus 2017 naik sebesar 7,04 juta orang” tukasnya

“ Saya merujuk kepada pernyataaan Kecuk Suhariyanto, kepala BPS mengatakan, pertambahan jumlah  pengangguran tersebut disebabkan oleh peningkatan jumlah angkatan kerja di Indonesia”, imbuhnya.

Di Indramayu, sejak Januari 2017 hingga 25 November 2017 jumlah pencari kerja mencapai 32.901 orang. Menurut Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Indramayu, Daddy Haryadi tingginya angka pengangguran di Kabupaten Indramayu itu dipengaruhi oleh sulitnya pencari kerja dalam mengakses informasi lowongan pekerjaan yang ada. Padahal di sisi lain, perusahaan menemui kendala dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja sesuai dengan kualifikasi yang mereka tentukan, demikian Bung Fai melanjutkan perkataannya.

Ditanya mengenai dampak pengangguran yang ditanyakan kepadanya, Bung Fai menjabarkan dengan sederhana dan simple.

“Pengangguran menjadi hal yang krodit belakangan ini, tingginya tingkat pengangguran akan menimbulkan efek psikologis yang buruk. Tingkat pengangguran yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan kekacauan politik, keamanan dan sosial sehingga mengganggu proses pembangunan” tegasnya.

Menurut saya ada beberapa dampak dari akibat tinggginya pengangguran bagi perekonomian negara. Salah satunya adalah penurunan pendapatan perkapita. Selain itu berdampak pula pada penurunan pendapatan pemerintah yang berasal dari sektor pajak. Yang paling harus digaris bawahi adalah dampak meningkatnya biaya sosial yang harus dikeluarkan oleh pemerintah yang menyebakan bertambah tingginya hutang negara”, katanya.

Lantas bagaimana menurut Bung Fai untuk mengatasi masalah pengangguran ini.

Faisal mengutarakan: “Untuk mengurangi tingginya angka pengangguran, menurut saya pemerintah bisa melakukan dengan berbagai macam cara. Salah satunya adalah perluasan kesempatan kerja dengan cara mendirikan industri-industri baru, terutama yang bersifat padat karya.

Selain itu pemerintah juga bisa melakukan deregulasi dan debirokratisasi di berbagai bidang industri untuk merangsang timbulnya investasi baru.

Hal lain yang bisa dilakukan pemerintah juga seperti menggalakkan pengembangan sektor informal, menggalakkan program transmigrasi untuk menyerap tenaga kerja di sektor agraris dan sektor formal lainnya, lalu pembukaan proyek-proyek umum oleh pemerintah sehingga bisa menyerap tenaga kerja secara langsung maupun untuk merangsang investasi baru dari kalangan swasta”, demikian jawab Faisal.

Pengangguran ini tentunya berjangkit di kalanagn kaum muda, lantas apa menurut Bung Fai pekerjaan yang bagus untuk kaum muda sekarang ini.

“Banyak pekerjaan yang bisa digali dari potensi kaum milenial. Kaum milenial sangat akrab dengan gadget. Dunia IT menjadi makanan sehari-hari bagi mereka. Socioprenuer adalah lahan subur bagi kaum milenial”, katanya.

Disela-sela obrolan santai ini, Bung Fai merasa sangat prihatin dengan menggurita dan masifnya tindakan-tindakan korupsi yang dilakukan oleh para penyelenggara negara.

Terhadap situasi koruptif sekarang ini Faisal mengungkapkan kekecewaannya.

“Korupsi adalah hal yang paling keji. Tiada ampun bagi pelaku tindak korupsi. Mereka para koruptor sama seperti halnya para pelaku genosida. Pelaku pembunuhan massal. Membunuh para generasi sampai generasi setelah kita”

Tak terasa waktu bincang-bincang yang kami mulai dari bada Dzuhur kini sudah terdengar kumandang azan ashar, dan kami selesaikan dengan berangkat bersama ke masjid di kampung kediaman Faisal, yang selanjutnya kami berpamitan dengan salam jabat erat, semoga Bung Fai menjadi pencerah dan bermakna hidupnya untuk generasi milenial sekarang ini sampai generasi yang akan datang dengan karya dan kiprahnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here