Jakarta – Di tengah situasi kebangsaan yang semakin rawan mengarah kepada disintergrasi, Pusat Syi’ar dan Dakwah Da’i Muda Al-Mahabbah merasa penting untuk menghadirkan puisi. Salah satu caranya adalah dengan menggelar Launching sekaligus Bedah Novel Puisi “Remaja dari Karta” karya Bung Fai.
Launching dan Bedah Novel ini dihadiri oleh Bung Fai sebagai penulis, dan dua orang pembedah yakni Muhammad Rafsanjani dan Shinta Lestari, yang masing-masing adalah seorang kritikus sastra dan jurnalis.
Dalam paparannya, Shinta Lestari mengatakan bahwa karya Bung Fai ini patut diapresiasi karena orisinalitasnya yang bersumber dari true story. “Cara Bung Fai menyajikan novel ini dengan konsep puisi, berhasil membawa pembaca lebur dan masuk ke dalam alur cerita”, tandasnya.
Ahmad Bun Yani, Ketua Pusat Syi’ar dan Dakwah Da’i Muda Al-Mahabbah berharap akan lahir lagi karya-karya serupa. “Republik ini sudah terlalu sumpek dengan tradisi medsos yang gampang sekali saling mencaci”, ujarnya. “Karenanya”, sambung Bun Yani, “novel dan puisi adalah cara kita untuk minimal menjadi pembanding bagi narasi-narasi yang kerap kali mengarah pada disintergrasi”, ungkapnya.
Disisi lain Ketua Umum Forum Konstitusi dan Demokrasi Ismadani mengatakan bahwa Bung Fai telah mendobrak koridor sastra.
Sastranya yang singkat tersebut mampu mewakili gambaran masyarakat kita, dimana peran negara yang masih belum menyentuh gressroot.
“Karya ini sungguh berani menyajikan realita kehidupan dan ke egoisan negara ini dimana sastrawan lain bungkam dan menikmati romantisme demokrasi sungguh saya seperti menemukan Pram dizaman Now,”  pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here