Jakarta – Gebyar pesta demokrasi berupa Pilkada, Pileg, dan Pilpres secara langsung seolah telah mengubah pola hubungan sosial bangsa Indonesia.

Bahkan segala persoalan terseret dan dibawa-bawa ke ranah kepentongan politik. Termasuk isu agama dan keyakinan masyarakat.

Menyikapi hal ini, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin mengatakan, pelaksanaan Pilkada serentak 2018, kemudian Pemilu Legislatif dan Pilpres 2019 jangan sampai merusak tatanan keutuhan kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Agama jangan dipolitisasi, digunakan untuk kepentingan politik jangka pendek. Kalau politik keagamaan, politik kebangsaan dan kenegaraan harus,” ujar KH Ma’ruf Amin dalam sebuah diskusi di Jakarta.

Ia menjelaskan, politik tentu harus juga dijiwai nilai-nilai keagamaan. Namun jangan sampai agama ditunggangi untuk tujuan-tujuan politik jangka pendek, apalagi hanya untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan kelompok.

“Politik keagamaan itu harus, karena politik yang tidak dijiwai agama nanti jadi politik tidak santun, kemudian terjadi money politik,” ujarnya

Ditegaskan KH. Ma’ruf Amin, dalam demokrasi perbedaan pilihan adalah sesuatu yang sangat dihargai. Namun pemaksaan kehendak tidak boleh dibiarkan terjadi. Apalagi upaya memecahbelah bangsa, maka hal itu wajib dilawan.

“Berbeda pilihan boleh, tapi Indonesia harus tetap satu. Supaya pilkada, pileg, dan pilpres tidak merusak tatanan kehidupan dan keutuhan bangsa,” tegasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here