Jakarta – Serikat Karyawan PT Garuda Indonesia (persero) Tbk (Sekarga) dan Asosiasi Pilot Garuda (APG) mendesak perbaikan manajemen pengelolaan perusahaan plat merah tersebut.

Mereka membeberkan berbagai persoalan di internal Garuda, hingga berimbas pada buruknya kinerja keuangan dan pelayanan maskapai yang sebagian besar sahamnya dimiliki negara itu.

Ketua Sekarga Ahmad Irfan Nasution mengatakan, masalah pertama yang menyebabkan kinerja Garuda bobrok adalah terkait kegagalan dan perubahan sistem penjadwalan crew yang puncaknya pada bulan November 2017, sehingga terjadi pembatalan dan penundaan penerbangan masih terus terjadi hingga saat ini.

“Yang bertanggungjawab dalam hal ini adalah direktur marketing dan tekhnologi informasi,” ujar Irfan dalam konfrensi pers di restaurant Pulau Dua, Jakarta, Rabu (2/5/2018).

Ia melanjutkan, masalah kedua terkait jabatan direktur kargo yang sangat tidak diperlukan, karena sebelumnya unit kargo hanya dipimpin oleh pejabut setingkat Vice President.

“Hal ini dikarenakan Gauda Indonesia tidak memiliki pesawat khusus kargo. Dengm dipimpin oleh seorang direktur sejak 2016 kinerja direkur tidak mengalami peningkatan dan hanya ada pembebanan biaya organisasi,” jelasnya.

Dijelaskan Irfan, bahwa peningkatan pendapatan usaha penjualan tiket tidak mampu mengimbangi beban usaha, tidak lain karena ketidakmampuan Direktur Marketing dan direktur IT dalam membuat strategi penjualan produk. Hal ini dapat dilihat pada penurunan jumlah penjualan tiket penumpang pada 2017 dibanding 2016.

Ia melanjutkan, kegagalan pengelolaan Garuda juga terlihat dari nilai saham GIAA yang tergerus merosot dari awal IPO pada 26 Januari 2011 sebesar Rp750 hingga saat penutupannterakhir 25 April 2018 sebesar Rp292 per lembar saham.

“Masalah lainnya adalah Direktur Personalia banyak mengeluarkan peraturan yang tidak sesuai dengan perjanjian kerja perusahaan tanpa berunding dengan serikat pekerja, sehingga menimbulkan perselisihan dan suasana kerja yang tidak kondusif. Hal ini dapat berakibat pada penurunan safety,” jelasnya.

Mengacu pada masalah-masalah teraebut, Irfan menjelaskan bahwa Sekretariat Bersama (Sekber) karyawan Garuda menyuarakan dua tuntutan. Pertama, menuntut dilakukannya restrukturisasi jumlah Direksl PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk dari 8 orang menjadi 6 orang dengan berpedoman pada peraturan penerbangan sipil Republik Indonesia.

“Kedua, kami menuntut dilakukan pergantian Direksi dengan pertimbangan profesional yang berasal dari internal Garuda Indonesia (Persero) yang lebih memahami permasalahan perusahaan,” tuntas Irfan.(HEA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here