Jakarta – Ketua Umum Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Jimly Ashiddiqie mengingatkan, tegaknya negara akan ditentukan oleh penegakan hukum dan sekaligus etika.

Menurut Jimly, dua hal ini sangat penting, namun kerap kali masalah etika yang tak diatur secara hukum, kemudian tergerus oleh perubahan sehingga ada pemikiran dibutuhkan adanya konstitusionalisasi etika.

“Tapi kan kalau etika mau dibuat jadi undang-undang maka banyak orang yang marah. Sebab sampai abad ke-20 masih kuat pemisahan antara etika norma agama dengan negara. Ada yang memandang agama masalah privat dan negara masalah publik,” ujar Jimly dalam dialektika ICMI di Jakarta, Rabu (22/11/2017).

Mantan ketua mahkamah konstitusi ini menjelaskan, di akhir-akhir abad ke-20 muncul kesadaran baru, bahwa hukum tak bisa lagi jadi satu-satunya andalan dalam kehidupan bernegara. Apalagi ketika peradaban masyarakat sudah meningkat, di mana penjara bukan lagi sebagai sarana efektif dalam memberikan ganjaran atas kesalahan.

“Bahkan jika peradaban suatu
bangsa meningkat, maka lama-lama orang enggak percaya lagi sama penjaran sebagai sarana memberikan hukuman. Bahkan penjara malah sudah mewah,” bebernya.

Dengan argumentasi pemikiran itu, Jimly mengingatkan bahwa saat ini perlu kesadaran semua puhak untuk membenahi hukum sekaligus membangun dan menata sistem yang baik.

“Apalagi kita di Indonesia mempunyai konstitusi yang juga sebagai sumber etika, yakni Pancasila dan UUD sebagai sumber hukum dan etika. Semua pejabat di negeri ini pasti disumpah jabatan ketika dilantik. Dalam sumpah jabatan itulah ada materi etik didalamnya. Ada ungkapan berjanji atas nama tuhan dan seterusnya,” jelas Jimly.

Guru besar ilmu hukum di Universitas Indonesia ini menjelaskan, pemimpin semestinya memegang aturan-aturan hukum dan ada substansi etik didalamnya. Karena itu, prilaku pemimpin selain mengikuti dan menjalankan UU juga memegang peran etik.

“Pejabat yang baik bukan menikmati jabatan saja. Tapi harus bekerja dengan sistem yang benar. Nah, soal sistem ini ada lima proses. Dimulai dari menata sistem, kemudian menetapkan sistem, menegakkan sistem, menjadi role model sistem dan terakhir berkomunikasilah dengan masyarakat,” tuntas Jimly. (hea)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here